Penting! Ini Perbedaan Pinjaman Online Legal Dan Ilegal

Ketika pengguna memasang aplikasi pinjol ilegal, aplikasi tersebut biasanya meminta akses ke daftar kontak, kotak masuk, dan data pribadi lainnya. CEO dan Co-Founder Akseleran Ivan Tambunan mengimbau agar selain waspada terhadap tawaran pinjol ilegal juga harus bijak dalam mengajukan pinjaman. Ivan mencontohkan, jangan karena tergoda dengan gadget baru yang keren, lantas langsung meminjam dana dari pinjol ilegal, padahal penghasilan bulanan lebih kecil daripada kemampuan membayar cicilan pinjaman. Selain itu, fintech resmi juga pasti memiliki layanan konsumen yang terpadu, serta alamat kantor dan identitas pengurus yang jelas walaupun seluruh layanan keuangannya ditawarkan secara online. Dalam memberikan pinjaman, fintech yang legal juga akan tetap melakukan proses seleksi dan verifikasi yang ketat.

Di mana bunga pinjaman tidak boleh melebihi 0.8% per hari sedang denda maksimal 100% dari pinjaman pokok. Namun aturan ini hanya berlaku pada fintech P2P lending yang legal saja. Jadi, jika Sobat Pintar meminjam pinjaman uang dari aplikasi ilegal, tidak menutup kemungkinan denda yang diberlakukan adalah lebih dari 100%.

Saat pengajuan, peminjam perlu mendownload aplikasi Pinjam Yuk, lalu mengisi data – data yang diminta dan dari situ sistem akan memberikan rekomendasi jumlah plafon pinjaman. Cash Advance adalah pinjaman dana tunai, sedangkan Installment adalah pinjaman cicilan untuk pembelian barang di mitra merchant yang bekerjasama dengan FINMAS. Namun, untuk pinjaman pertama, peminjam hanya akan bisa mengajukan max Rp 1.2 juta dan seiring kinerja pembayaran yang baik maka plafon kredit bisa meningkat. OJK sebagai otoritas menekankan pentingnya mengajukan di lembaga pinjaman yang legal. Karena pinjaman legal lebih melindungi konsumen dan mendapat pengawasan dari otoritas resmi.

Berdasarkan survei yang dilakukan Kemendag, kesadaran konsumen mengakses informasi sebelum membeli dan menggunakan jasa masih rendah. Bahkan meminta akses data pribadi seperti kontak, foto, dan video, lokasi bahkan data pribadi lainnya untuk meneror si peminjam yang gagal bayar. Belum lagi, bila pengguna mengambil pinjaman online berlebihan, untuk kebutuhan konsumtif dan tidak punya proyeksi pembayaran. Resiko Kredit atau Gagal Bayar dan seluruh kerugian dari atau terkait dengan kesepakatan pinjam meminjam ditanggung sepenuhnya oleh Pemberi Pinjaman. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar dan kerugian tersebut.

Keputusan Pengguna untuk memanfaatkan Fintech Lending merupakan suatu wujud dan bukti pemahaman Pengguna atas Informasi ini. Pemberi Pinjaman yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman Pinjam-Meminjam atau Fintech lending, disarankan tidak menggunakan layanan ini. Warga Negara Indonesia berusia minimal 18 tahun atau Badan Hukum yang berdasarkan hukum Indonesia. Dapat membuktikan keabsahan identitas diri melalui KTP, SK dan Rekening Bank di Indonesia yang akan dievaluasi oleh tim analisa kredit One Hope. 4.9 Sesuai dengan komitmen kami untuk mematuhi hukum yang berlaku di Indonesia, Kami diwajibkan untuk membuka akses Informasi Anda kepada Pihak Ketiga yang memiliki kewenangan seperti pemerintah, pengadilan, kepolisian, kejaksaan, hanya jika terdapat perintah yang sah.